KENDARI — Universitas Mandala Waluya melalui Unit Perpustakaan resmi meluncurkan inisiatif terbaru yang bertujuan meningkatkan kompetensi literasi digital mahasiswa. Program yang diberi nama “Digital Library Hub 2026” ini dihadirkan sebagai respons terhadap kebutuhan akademik yang semakin kompleks di era transformasi digital. Peluncuran resmi kegiatan dilaksanakan pada Senin, 31 Maret 2026, di aula perpustakaan utama kampus, dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan akademik dan administratif.
Inisiatif ini menandai babak baru dalam perjalanan perpustakaan kampus Universitas Mandala Waluya yang selama ini terus berupaya menyesuaikan diri dengan dinamika pendidikan tinggi modern. Program Digital Library Hub 2026 dirancang dengan tiga pilar utama: peningkatan akses sumber daya digital, pelatihan keterampilan informasi literasi, dan pengembangan sistem manajemen perpustakaan berbasis teknologi terkini.
Ketua Unit Perpustakaan Universitas Mandala Waluya, Dra. Siti Nurhaliza, M.Lis., menjelaskan bahwa program ini merupakan hasil dari riset mendalam selama enam bulan terhadap kebutuhan mahasiswa dan dosen di kampus. “Kami menemukan bahwa sebagian besar mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam menavigasi sumber daya digital akademik yang tersedia. Oleh karena itu, program ini dirancang untuk memberikan solusi komprehensif,” ujar Nurhaliza saat membuka acara peluncuran.
Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa perpustakaan Universitas Mandala Waluya telah mengalokasikan anggaran sebesar 2,5 miliar rupiah untuk implementasi program ini dalam tahun akademik 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk pembelian lisensi database elektronik internasional, pelatihan staf perpustakaan, dan pembangunan fasilitas learning commons yang dilengkapi dengan perangkat teknologi mutakhir.
“Database yang kami sediakan mencakup koleksi jurnal internasional dari berbagai disiplin ilmu, e-book, dan repositori penelitian terbuka. Semua mahasiswa dan dosen Universitas Mandala Waluya akan mendapatkan akses gratis tanpa batasan kuota,” tambah Nurhaliza dengan antusias.
Komponen Utama Program Digital Library Hub 2026
Program yang diluncurkan pada awal bulan April ini mencakup beberapa komponen strategis yang dirancang untuk memberikan dampak maksimal bagi komunitas akademik kampus. Pertama, adalah pengembangan koleksi digital yang mencakup ribuan judul jurnal ilmiah dari penerbit terkemuka dunia seperti Scopus, ProQuest, dan JSTOR. Selain itu, perpustakaan juga menjalin kerjasama dengan beberapa universitas terkemuka di Asia Tenggara untuk berbagi akses koleksi digital melalui konsorsium perpustakaan regional.
Komponen kedua adalah pelaksanaan workshop dan pelatihan berkelanjutan untuk mahasiswa. Program ini dibagi menjadi tiga tingkatan: basic, intermediate, dan advanced. Tingkat dasar akan memperkenalkan mahasiswa pada cara menggunakan database penelitian, teknik pencarian efektif, dan manajemen referensi. Sementara itu, tingkat menengah dan lanjut akan mengajarkan analisis literatur, penggunaan tools analitik penelitian, dan etika akademik dalam penggunaan sumber daya digital.
“Kami akan mengadakan setidaknya empat workshop per bulan dengan durasi dua hingga tiga jam setiap sesinya. Workshop dilaksanakan secara hybrid, sehingga mahasiswa dapat mengikuti baik secara tatap muka maupun daring sesuai dengan preferensi dan jadwal mereka,” jelas Nurhaliza lebih detail.
Komponen ketiga adalah revitalisasi fasilitas fisik perpustakaan. Unit Perpustakaan Universitas Mandala Waluya di Kendari akan memiliki zona khusus bernama “Digital Innovation Space” yang dilengkapi dengan komputer desktop berperforma tinggi, printer 3D, scanner berkualitas tinggi, dan perlengkapan multimedia lainnya. Zona ini diperuntukkan khusus bagi mahasiswa yang ingin mengerjakan proyek penelitian, menyusun skripsi, atau membuat konten akademik dengan memanfaatkan teknologi modern.
Tidak hanya itu, Unit Perpustakaan juga akan membuka “Collaboration Corner” yang merupakan ruang kerja sama dengan fasilitas video conferencing terintegrasi. Ruangan ini dirancang untuk memfasilitasi diskusi kelompok mahasiswa, sesi konsultasi dengan dosen, dan bahkan pertemuan akademik dengan pihak eksternal universitas.
Respons Positif dari Pimpinan Universitas
Rector Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. H. Moh. Ismail Suardi, M.Sc., menyambut baik inisiatif Unit Perpustakaan ini. Dalam sambutannya saat acara peluncuran, Prof. Ismail menekankan bahwa investasi dalam infrastruktur digital dan literasi akademik adalah prioritas strategis universitas.
“Perpustakaan bukan hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat pembelajaran yang dinamis. Program Digital Library Hub 2026 menunjukkan komitmen kami untuk menjadi universitas yang responsif terhadap perubahan zaman,” ungkap Prof. Ismail.
Rector juga menambahkan bahwa program ini sejalan dengan visi Universitas Mandala Waluya untuk menjadi lembaga pendidikan tinggi yang menghasilkan lulusan berkompeten di bidang teknologi informasi dan manajemen pengetahuan. “Dalam era industri 4.0, mahasiswa kami harus menguasai tidak hanya konten akademik, tetapi juga keterampilan digital yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja,” tegasnya.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Hj. Rahmawati, M.A., juga turut memberikan apresiasi. Menurutnya, program ini akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di semua program studi yang ada di Universitas Mandala Waluya. “Dengan akses yang lebih mudah terhadap sumber daya akademik berkualitas, kami optimis dapat meningkatkan indeks sitasi penelitian dosen dan mahasiswa dalam publikasi internasional,” papar Dr. Rahmawati.
Testimoni Mahasiswa dan Dosen
Dari kalangan mahasiswa, respons terhadap peluncuran program ini sangat positif. Aditya Pratama, mahasiswa semester enam Program Studi Teknik Informatika, mengatakan bahwa program ini sangat ditunggu-tunggu oleh banyak mahasiswa. “Selama ini, kami sering kesulitan mengakses jurnal internasional karena terbatasnya koleksi yang tersedia di perpustakaan. Program ini akan sangat membantu kami dalam menyusun skripsi dan melakukan penelitian,” ujar Aditya.
Sementara itu, dari sisi dosen, Dr. Bambang Sutrisno, M.Pd., dosen senior Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, memberikan perspektif yang berbeda. “Program ini bukan hanya menguntungkan mahasiswa, tetapi juga membuka peluang bagi dosen untuk lebih aktif melakukan penelitian berbasis data. Dengan akses terhadap database terlengkap, kami dapat melakukan kajian pustaka yang lebih komprehensif dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan,” ungkap Dr. Bambang.
Kepala Bagian Kemahasiswaan, Drs. Hartono, M.M., juga berpendapat bahwa program ini akan meningkatkan prestasi akademik mahasiswa secara keseluruhan. “Literasi digital adalah kompetensi kunci yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa di era modern. Program Digital Library Hub 2026 akan memastikan bahwa semua mahasiswa Universitas Mandala Waluya mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan kompetensi ini,” katanya.
Jadwal Implementasi dan Target Capaian
Unit Perpustakaan telah menetapkan jadwal implementasi program yang terstruktur dan realistis. Fase pertama, yang berlangsung hingga akhir bulan April 2026, fokus pada aktivasi semua database elektronik yang telah diperoleh dan pelatihan staf perpustakaan. Fase kedua, dari Mei hingga Juni 2026, akan dimulai dengan pembukaan fasilitas Digital Innovation Space dan Collaboration Corner serta pelaksanaan workshop pertama untuk mahasiswa.
Target capaian program ini sangat ambisius namun terukur. Dalam enam bulan pertama, Unit Perpustakaan menargetkan minimal 500 mahasiswa mengikuti workshop literasi digital. Dalam satu tahun akademik, target tersebut ditingkatkan menjadi 1.500 mahasiswa atau setara dengan 30 persen dari total populasi mahasiswa Universitas Mandala Waluya. Sementara itu, untuk penggunaan fasilitas Digital Innovation Space, diproyeksikan bahwa dalam tahun pertama, ruang tersebut akan digunakan oleh lebih dari 100 mahasiswa per minggu dengan tingkat kepuasan pengguna minimal 85 persen.
Kerjasama Eksternal dan Dukungan Stakeholder
Kesuksesan program Digital Library Hub 2026 tidak hanya bergantung pada usaha internal Universitas Mandala Waluya, tetapi juga memerlukan dukungan dari berbagai pihak eksternal. Unit Perpustakaan telah menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga internasional dan organisasi profesi perpustakaan untuk memastikan kualitas dan relevansi program.
Salah satu mitra strategis adalah International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA), yang telah menyetujui untuk memberikan konsultasi teknis dalam pengembangan layanan perpustakaan digital. Selain itu, beberapa universitas terkemuka di Indonesia seperti Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung juga menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dalam konsorsium yang diprakarsai oleh Universitas Mandala Waluya.
“Kolaborasi ini memungkinkan kita untuk berbagi best practices dan sumber daya. Dengan cara ini, kami dapat memberikan nilai tambah yang signifikan kepada mahasiswa dengan investasi yang lebih efisien,” jelas Nurhaliza.
Dari sisi dukungan lokal, pemerintah daerah Kendari melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga memberikan apresiasi terhadap inisiatif ini. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari, H. Asrin Monoarfa, M.Si., mengatakan bahwa program ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Kendari.
Prospek Masa Depan
Dengan diluncurkannya program Digital Library Hub 2026, Unit Perpustakaan Universitas Mandala Waluya telah membuka babak baru dalam perjalanan panjangnya sebagai lembaga pendukung pembelajaran akademik. Program ini bukan hanya sekadar respons reaktif terhadap tren digital, tetapi merupakan strategi proaktif untuk memposisikan universitas sebagai pusat pembelajaran yang modern dan berbasis teknologi.
Ke depannya, Unit Perpustakaan memiliki rencana untuk terus mengembangkan layanan digital. Dalam tiga tahun ke depan, perpustakaan merencanakan pengembangan sistem library management system (LMS) yang lebih canggih dengan fitur artificial intelligence untuk rekomendasi literatur. Selain itu, juga akan dikembangkan platform repositori institusional yang lebih user-friendly untuk menampilkan karya akademik mahasiswa dan dosen Universitas Mandala Waluya.
Siti Nurhaliza menyatakan bahwa visinya adalah menjadikan perpustakaan Universitas Mandala Waluya sebagai model perpustakaan digital terdepan di kawasan Sulawesi Tenggara. “Kami ingin menunjukkan bahwa kampus di daerah dapat memiliki fasilitas dan layanan akademik yang setara dengan kampus di kota-kota besar. Program ini adalah langkah pertama menuju visi tersebut,” tutupnya.
Penutup
Peluncuran program Digital Library Hub 2026 oleh Unit Perpustakaan Universitas Mandala Waluya menandai komitmen serius kampus terhadap peningkatan kualitas akademik dan pengembangan infrastruktur digital. Dengan alokasi anggaran yang signifikan, dukungan penuh dari pimpinan universitas, dan respons positif dari mahasiswa serta dosen, program ini memiliki potensi besar untuk memberikan dampak transformatif bagi ekosistem pembelajaran di Universitas Mandala Waluya.
Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berada di Kendari, Universitas Mandala Waluya membuktikan bahwa lokasi geografis bukanlah penghalang untuk menyediakan fasilitas dan layanan akademik berkelas dunia. Program ini diharapkan dapat menginspirasi perguruan tinggi lainnya di kawasan Sulawesi Tenggara untuk melakukan inovasi serupa dalam mendukung pembelajaran mahasiswa.
Dalam era transformasi digital ini, kehadiran program Digital Library Hub 2026 bukan hanya menguntungkan mahasiswa dan dosen Universitas Mandala Waluya, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan pendidikan tinggi yang lebih inklusif dan berbasis teknologi di Indonesia secara keseluruhan. (*)