KENDARI — Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan kompetensi digital mahasiswa, Unit Perpustakaan Universitas Mandala Waluya (UMW) secara resmi meluncurkan Program Literasi Digital Terintegrasi pada hari Rabu, 16 April 2026. Inisiatif strategis ini mencakup digitalisasi koleksi perpustakaan, pelatihan penggunaan basis data akademik, dan pengembangan skill information literacy bagi seluruh sivitas akademika.
Peluncuran program tersebut dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Bambang Sutrisno, M.Si., Kepala Unit Perpustakaan Dr. Yuliana Hamid, S.S., M.Hum., para dekan dari lima fakultas, dan lebih dari 200 mahasiswa dari berbagai program studi. Acara berlangsung di Aula Utama Gedung Perpustakaan Terpadu UMW yang baru direnovasi dengan fasilitas modern.
Latar Belakang dan Urgensi Program
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan transformasi digital di dunia pendidikan, Universitas Mandala Waluya menyadari pentingnya adaptasi terhadap perubahan paradigma pembelajaran abad ke-21. Perpustakaan, sebagai jantung akademik institusi pendidikan, memiliki peran krusial dalam memfasilitasi akses informasi berkualitas kepada mahasiswa dan dosen.
Direktur Unit Perpustakaan, Dr. Yuliana Hamid, menjelaskan bahwa keputusan meluncurkan program ini didasarkan pada hasil evaluasi komprehensif terhadap kebutuhan pengguna perpustakaan selama tiga tahun terakhir.
“Melalui survei yang kami lakukan kepada 850 responden dari kalangan mahasiswa dan dosen, kami menemukan bahwa 76 persen pengguna potensial perpustakaan masih memiliki keterbatasan dalam mengakses dan memanfaatkan sumber daya digital secara optimal. Data ini menjadi dasar kuat bagi kami untuk merancang program literasi digital yang komprehensif dan inklusif,” ungkap Dr. Yuliana dalam sambutannya pada acara peluncuran.
Hasil studi kebutuhan tersebut juga mengungkapkan bahwa mahasiswa UMW masih sangat bergantung pada sumber informasi sekunder dan belum terbiasa dengan metodologi penelitian yang memanfaatkan basis data internasional. Fenomena ini bertolak belakang dengan standar academic excellence yang menjadi visi institusi.
Komponen Program dan Aktivitas Akademik Terbaru
Program Literasi Digital Terintegrasi yang baru diluncurkan terdiri dari lima komponen utama yang dirancang secara sinergis untuk menciptakan ekosistem pembelajaran yang holistik.
Pertama, Digitalisasi Koleksi Perpustakaan, adalah upaya komprehensif untuk mengkonversi koleksi cetak menjadi format digital yang dapat diakses secara daring. Unit Perpustakaan UMW memiliki koleksi lebih dari 35.000 judul buku, 150 judul jurnal cetak, dan 50 judul majalah ilmiah. Dalam tahap pertama, perpustakaan akan mendigitalkan 5.000 judul buku referensi dan ebook dalam tiga bulan ke depan, dengan target penyelesaian seluruh koleksi dalam waktu 18 bulan.
“Kami telah menjalin kerjasama dengan beberapa penerbit akademik ternama untuk mendapatkan lisensi penggunaan koleksi digital berkualitas tinggi. Selain itu, kami juga mengembangkan repository digital untuk tesis, disertasi, dan karya ilmiah hasil riset dosen dan mahasiswa UMW. Hal ini penting untuk meningkatkan visibilitas dan dampak penelitian institusi kami di tingkat nasional dan internasional,” jelas Dr. Yuliana lebih lanjut.
Kedua, Workshop dan Pelatihan Literasi Informasi, merupakan serangkaian kegiatan edukatif yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam mencari, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi akademik secara kritis dan etis. Program ini mencakup workshop tatap muka, webinar daring, dan sesi tutorial individual.
Adapun topik workshop yang akan diselenggarakan meliputi: “Penelusuran Efektif di Basis Data Akademik”, “Manajemen Referensi Bibliografi dengan Software Modern”, “Evaluasi Kredibilitas Sumber Informasi Digital”, “Pemanfaatan Open Access Resources untuk Penelitian”, dan “Etika dan Integritas Akademik dalam Penggunaan Sumber Informasi”.
“Workshop pertama dijadwalkan pada tanggal 23 April 2026, dengan narasumber Dr. Andi Wijaya, peneliti senior dari Universitas Gadjah Mada yang memiliki expertise dalam information retrieval dan research methodology. Kami menargetkan setidaknya 1.500 mahasiswa mengikuti seluruh rangkaian workshop dalam semester ini,” tambah Dr. Yuliana.
Ketiga, Pengembangan Learning Commons, adalah transformasi ruang fisik perpustakaan menjadi area pembelajaran kolaboratif yang dilengkapi dengan teknologi terkini. Universitas Mandala Waluya telah mengalokasikan dana Rp 2,3 miliar untuk renovasi dan peningkatan fasilitas ini.
Ruang pembelajaran yang dikembangkan mencakup: 12 private study pods dengan teknologi videoconference untuk mendukung pembelajaran jarak jauh, 8 collaborative workstations untuk diskusi kelompok, maker space dengan peralatan multimedia, dan café akademik untuk diskusi informal. Keseluruhan fasilitas ini akan dilengkapi dengan wifi 6 dan smart lighting system untuk menciptakan lingkungan belajar yang optimal.
“Konsep Learning Commons ini mengadopsi best practices dari perpustakaan-perpustakaan terkemuka di Asia Tenggara seperti Universitas Nasional Singapura dan Universitas Chulalongkorn Thailand. Kami ingin menciptakan ruang yang tidak hanya menyimpan buku, tetapi menjadi incubator untuk inovasi akademik dan kolaborasi antardisiplin ilmu,” jelas Rektor Prof. Dr. Bambang Sutrisno dalam pidato resminya.
Keempat, Akses ke Basis Data dan E-resources Premium, merupakan komitmen institusi untuk meningkatkan koleksi e-resources berkualitas tinggi yang mendukung riset dan pembelajaran. Sejak tahun akademik 2025/2026 ini, Unit Perpustakaan UMW telah berlangganan 12 platform basis data internasional terkemuka, termasuk ProQuest Research Library, JSTOR, Scopus, Web of Science, dan beberapa basis data spesifik sesuai kebutuhan program studi.
Investasi tahunan untuk langganan e-resources mencapai Rp 1,2 miliar, dengan anggaran yang akan terus ditingkatkan seiring pertumbuhan jumlah mahasiswa dan kebutuhan penelitian.
Kelima, Program Magang dan Asisten Perpustakaan Digital, adalah inisiatif untuk melibatkan mahasiswa dalam pengembangan layanan perpustakaan digital. Sebanyak 25 mahasiswa dari berbagai program studi telah direkrut sebagai digital library assistants dengan sistem kerja berbasis project dan mentoring dari librarian profesional.
“Program ini tidak hanya membantu perpustakaan dalam operasionalisasi layanan digital, tetapi juga memberikan kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk mengembangkan skill praktis dalam information management, user experience design, dan project coordination,” ungkap Suhartono, S.S., M.I.Kom., Kepala Divisi Layanan Digital Unit Perpustakaan.
Testimoni dan Tanggapan Stakeholder
Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Bambang Sutrisno, menekankan bahwa Program Literasi Digital Terintegrasi merupakan manifestasi konkret dari komitmen institusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.
“Dalam era digital ini, literasi informasi bukan lagi sesuatu yang opsional, melainkan kompetensi fundamental yang harus dimiliki setiap lulusan universitas kami. Kami ingin mahasiswa Mandala Waluya mampu tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga menjadi konsumen informasi yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab secara etis. Dengan berbagai komponen program yang komprehensif ini, kami yakin dapat membangun ekosistem pembelajaran yang mendukung pencapaian visi akademik institusi,” kata Prof. Sutrisno dengan penuh keyakinan.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Dr. Irfan Nasution, M.A., mengapresiasi langkah progresif yang diambil pimpinan universitas melalui unit perpustakaan.
“Mahasiswa kami, terutama yang mengambil program penelitian tingkat lanjut, sering menghadapi kesulitan dalam mengakses jurnal-jurnal internasional berkualitas tinggi. Dengan peluncuran program ini dan peningkatan akses ke basis data premium, kami optimis penelitian mahasiswa kami akan mencapai standar internasional yang lebih baik. Ini sangat penting mengingat kita sedang mempersiapkan akreditasi internasional untuk beberapa program studi di fakultas kami,” ujar Dr. Irfan.
Ketua Senat Mahasiswa Universitas Mandala Waluya, Muhammad Ridho Pratama (mahasiswa tingkat akhir Fakultas Teknik), juga memberikan respon positif atas inisiatif ini.
“Sebagai representasi mahasiswa, kami sangat apresiasi dengan langkah responsif manajemen universitas ini. Selama ini, banyak mahasiswa yang merasa tertinggal dalam hal akses ke sumber informasi berkualitas dibandingkan mahasiswa dari universitas besar di Jawa. Program ini menunjukkan bahwa universitas benar-benar mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan kami. Tentu saja, kami akan memberikan feedback berkelanjutan untuk memastikan program ini berjalan sesuai harapan mahasiswa,” kata Ridho dalam kesempatan yang sama.
Dampak dan Proyeksi Kedepan
Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Tim Pengembangan Akademik UMW, Program Literasi Digital Terintegrasi diproyeksikan membawa dampak signifikan terhadap beberapa indikator kualitas pendidikan dalam jangka menengah dan panjang.
Pertama, peningkatan kualitas karya ilmiah mahasiswa, diukur dari peningkatan citation rate dan publikasi di jurnal terindeks. Target yang ditetapkan adalah peningkatan 40 persen dalam jumlah publikasi mahasiswa dalam jurnal internasional dalam dua tahun ke depan.
Kedua, peningkatan kepuasan pengguna perpustakaan, dengan target mencapai skor kepuasan 4,5 dari 5,0 dalam survei kepuasan pengguna tahunan. Saat ini, skor kepuasan pengguna perpustakaan UMW berada di angka 3,8 dari 5,0.
Ketiga, pengurangan plagiarisme akademik, melalui edukasi berkelanjutan tentang etika akademik dan pemanfaatan tools deteksi plagiarisme. Diharapkan, kasuskasus plagiarisme akan menurun minimal 30 persen dalam dua tahun ke depan.
Keempat, peningkatan engagement mahasiswa dengan perpustakaan, dengan target peningkatan pengunjung perpustakaan sebesar 50 persen dan peningkatan peminjaman digital resources sebesar 200 persen dalam tahun pertama implementasi program.
Dr. Yuliana Hamid mengungkapkan bahwa unit perpustakaan juga sedang mempersiapkan roadmap pengembangan jangka panjang yang lebih ambisius.
“Dalam lima tahun ke depan, kami menargetkan Unit Perpustakaan UMW menjadi digital information hub terbaik di Sulawesi Tenggara, yang tidak hanya melayani sivitas akademika internal tetapi juga komunitas luas melalui program community engagement. Kami juga sedang menjajaki kemungkinan kerjasama dengan perpustakaan universitas lain dalam regional consortium untuk resource sharing dan optimalisasi anggaran,” jelas Dr. Yuliana dalam wawancara khusus pasca-peluncuran program.
Penutup
Program Literasi Digital Terintegrasi yang diluncurkan Unit Perpustakaan Universitas Mandala Waluya pada Rabu, 16 April 2026, merepresentasikan komitmen institusi terhadap peningkatan berkelanjutan dalam kualitas pembelajaran dan penelitian. Melalui kombinasi digitalisasi koleksi, pelatihan terstruktur, pengembangan infrastruktur fisik, peningkatan akses e-resources, dan keterlibatan mahasiswa dalam pengembangan layanan, universitas menciptakan ekosistem pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan zaman.
Momentum peluncuran program ini juga menjadi pesan kuat bahwa dalam era transformasi digital, institusi pendidikan harus proaktif dalam mengadaptasi model layanan mereka. Universitas Mandala Waluya, melalui Unit Perpustakaaannya, telah menunjukkan leadership dalam hal ini, dan dengan dukungan penuh dari pimpinan universitas dan apresiasi dari sivitas akademika, program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas akademik institusi dalam waktu dekat.
Bagi mahasiswa Universitas Mandala Waluya, peluncuran program ini membuka peluang baru untuk mengembangkan kompetensi literasi digital yang semakin esensial di era global dan digital ini. Dengan sumber daya yang memadai dan dukungan institusional yang kuat, diharapkan mahasiswa UMW dapat berkompetisi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di panggung akademik internasional.
—
Berita ini ditulis berdasarkan hasil peliputan langsung pada acara peluncuran Program Literasi Digital Terintegrasi Unit Perpustakaan Universitas Mandala Waluya, Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Rabu, 16 April 2026.